Gamelan bErtepUk tangaN
Archive/RSS
si pemiMpi cErita-ceRita inDah
Salam,
Mimpi. Indah. Dua ayat yang tak sama tapi sejoli. Apabila ditapis-tapis mimpi maka jalan ceritanya tak lengkap dan saling bertelagah antara akal dan hati dalam menghidupkan kembali cerita mimpi yang tidak lengkap kerana diganggu oleh kejutan. Kejutan yang berbagai. Bercerita mengenai ‘cerita’ yang ditulis dalam apa jua medan bercerita(kertas,media elek dan sebagainya) memerlukan pemegang watak memimpikan penonton hingga ke mimpi si anak seni untuk mengindahkan mimpi si pemimpi yang mengimpikan cerita-cerita indah dalam lamunan mati sebentarnya. Perlu diingat mati sebentarnya itu hukum. Hukum dimana jika matinya sebentar maka dia akan bangkit dari mimpi itu. Sebangkit si pemimpi dari matinya maka diingini nalurinya untuk kembali mengingati cerita. Cerita tentang cerita yang dipentaskan dalam matinya. Mujur si pemimpi bangkit dari matinya. Andai tidak. Dia harus biarkan manusia-manusia yang menguruskannya bercerita sepuas-puasnya tentang mati dirinya. Tentang matinya yang tidak bangkit-bangkit lagi. Si pemimpi yang tidak bangkit-bangkit lagi jua tidak mampu menyebut ‘tentang-tentang’. Si Pemimpi ingin tentang siapa?
Dia tidak upaya andai Malaikat Maut telah menarik nyawa pinjaman dari Tuhan Yang Esa. Semua ingin bercerita. Tapi bagaimana penyampaian yang si “semua” itu ingin gunakan untuk bercerita? Seperti Si pemimpi bercerita.
Dalam mimpi ada mimpi. Janggal tapi telus jika Si pemimpi itu alami.
Indah?
Terpulang pada pementasan yang tercipta dalam mimpi. Ada kalimat disebalik mimpi. Pernah kedegarankan?
Ada insan yang mampu untuk menafsir mimpi-mimpi Si pemimpi.
Dusta?
Tak tahu. Andai Si penafsir benar, benarlah. Andai Si penafsir dusta, dustalah.
Percaya?
Kena ambil tahu. Sebab Si pemimpi yang ketemu Si Penafsir samada untuk mendustakan diri sendiri atau mencari kebenaran yang tak pasti. Tapi..
Tuhan?
Kuasa Tuhan?
Syirik?
Apa kalau percaya pada mimpi, tiga persoalan diatas menoreh-noreh keringat otak? Memeras keringat kepercayaan?
Yang mampu dijawab Si Pemimpi hanyalah “Jika mimpi indahku menyenangkan seluruh lubuk jiwaku, aku biarkan pementasan itu terus dipentaskan. Jika mimpi indahku menjerih jiwaku, ku istigfar bermunajat pada Tuhanku..Sesungguhnya yang indah dan menjerih itu dipentaskan atas izinNya dan atas nama ujian kepada hambanNya..
Hidup, mati yang sebentar dan mati sebenar mati adalah dariNya..semuanya dariNya walaupun hanya secarik mimpi yang indah, dikhabarkan sebagai cerita-cerita Indah..
Tuhan itu indah..

